HUKUM KELUARGA DAN WARIS

ISTILAH

Didalam hukum waris dikenal istilah-istilah seperti pewaris, ahli waris, harta waris, boedel, testament, legaat, dan legitieme portie. Yang dimaksud Pewaris adalah orang yang meninggal dunia dan meninggalkan harta benda kepada orang lain. Ahli waris ialah orang yang menggantikan pewaris didalam kedudukannnya terhadap warisan. Harta waris atau disingkat warisan ialah segala hata kekayaan yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia yang berupa semua harta kekayaan dari yang meninggal dunia setelah dikurangi semua utangnya. Boedel  ialah warisan berupa kekayaan saja. Testament atau wasiat ialah suatu akta yang memuat ketentuan mengenai harta peninggalannnya, apabila seorang meninggal dunia. Legaat atau hibah wasiat adalah suatu testament dimana ditunjuk orang tertentu yang akan menerima suatu barang tertentu apabila pewaris meninggal, orang yang ditunjuk ini disebut legataris. Legitieme portie adalah bagian dari harta peninggalan yang tidak dapat dikurangi dengan testament atau pemberian lainnya oleh pewaris.

 

HUKUM WARIS ORANG ASING

 

            Berbicara tentang Negara, timbul pertanyaan bagaimana kalau seorang ahli waris itu warga Negara asing. Bagi orang-orang Indonesia keturunan Timur Asing lain dari pada Tionghoa, Hukum Waris tidak berlaku, kecuali bab 13 yang mengatur soal wasiat(stbld: 1924-556). Didalam pasal 4 dari Stbld itu ditentukan bahwa orang-orang dari keturunan tersebut hanya dapat membuat wasiat dengan bentuk wasiat umum, kecuali dalam hal-hal tersebut dalam pasal 946, 947, 948.

 

PERIHAL WARISAN

 

Menurut Undang-Undang, ada dua cara untuk mendapatkan warisan, yaitu:

  1. Sebagai ahli waris menurut ketentuan undang-undang (ab intestato)
  2. Karena ditunjuk dalam surat wasiat (testamentair)

Dalam hukum waris berlaku asas bahwa hanyalah hak dan kewajiban dalam lapangan hukum kekayaan harta benda yang dapat diwariskan (dapat dinilai dengan uang). Selain itu juga dalam hukum  waris berlaku asas le mort saisit le vif , yaitu apabila seseorang meninggal, maka seketika itu juga hak dan kewajibannya beralih pada sekalian ahliwarisnya. Pada asasnya tiap orang, meskipun seorang bayi yang baru lahir, adalah cakap untuk mewarisi. Hanya oleh undang-undang telah ditetapkan ada orang yang karena perbuatannya tidak patut menerima waris yaitu: 1). Orang yang dengan putusan hakim telah dihukum karena diperslahkan membunuh atau mencoba membunuh si meninggal, 2). Orang yang telah menggelapkan, memusnahkan atau memalsukan surat wasiat 3).atau dengan memakai kekerasan atau ancaman yang telah menghalang-halangi si meninggal untuk mewaris.

  •  Hak mewaris menurut undang-undang

Siapa yang berhak mewaris harta peninggalan seseorang diatur sebagai oleh undang-undang dan terbagi atas beberapa golongan. Mengenai keluarga sedarah dan isteri (suami) yang hidup paling lama, dapat diadakan 4 penggolongan yaitu:

  • Golongan 1, temasuk anak-anak beserta turunan-turunan dalam garis keturunan ke bawah, dengan tidak membedakan laki-laki atau perempuan dan dengan tidak membedakan urutan kelahiran.
  • Golongan  2,  termasuk bapak, ibu, dan saudara-saudara si meninggal
  • Golongan 3, keluarga sedarah dalam garis bapak lurus keatas dan keluarga sedarah dalam garis ibu.lurus keatas (ps.858 ayat 1)
  • Golongan 4, seorang waris yang terdekat pada tiap garis (ps.853 dan 858 ayat 2)

Jika terdapat orang-orang dari golongan 1, mereka itulah yang bersama-sama berhak mewarisi semua harta peninggalan, sedangkan anggota keluarga lainnya tidak mendapat bagian apapun. Namun jika tidak terdapat anggota keluarga dari golongan pertama itu, maka barulah orang dari golongan kedua tampil sebagai ahli waris. Dan jika tidak terdapat sama sekali anggota keluarga dari golongan pertama dan kedua, harta peninggalan akan dipecah menjadi bagian yang sama. Satu untuk para anggota keluarga pihak ayah dan yang lainnya untuk anggota keluarga pihak ibu.

  • Wasiat atau testament

Suatu wasiat atau testament ialah suatu pernyataan dari seseorang tentang apa yang dikehendaki setelahnya ia meninggal. Peryataan demikian dapat ditarik kembali setiap waktu oleh yang membuat wasiat. Pasal 874 B.W menerangkan tentang arti wasiat, dan juga terkadung syarat bahwa isi wasiat tidak boleh bertentangan dengan undang-undang, dengan artian ada pembatasan yang harus meperhatikan legitieme portie.

Lazimnya suatu testament berisi apa yang dinamakan “erfstelling”, yaitu penunjukan seorang atau beberapa orang menjadi ahli waris yang akan mendapat seluruh atau sebagian warisan. Selain itu juga suatu testament berisikan suatu “legaat”, yaitu suatu pemberian kepada seorang. Isi suatu testament tidak selalu terbatas pada hal-hal mengenai harta kekayaan saja, tetapi juga dapat berisikan mengenai penunjukan seorang wali untuk anak-anak si meninggal dan pengakuan anak luar kawin.

Menurut bentuknya, ada tiga macam testament, yaitu:

1). “Openbaar testament”, Suatu “Openbaar testament” dibuat oleh seorang notaris. Orang yang akan meninggalkan warisan menghadap pada notaris dan menyatakan kehendaknya. Notaris itu membuat suatu akta dengan dihadiri oleh dua orang saksi.

2) “Olographis testament”, suatu “Olographis testament” harus ditulis dengan tangan orang yang akan meninggalkan warisan itu sendiri. Kemudian harus diserahkan sendiri kepada notaris untuk disimpan. Penyerahan pada notaris harus dihadiri dua orang saksi dan dapat dilakukan secara terbuka atau tertutup.

3) “Testament tertutup atau rahasia”. Testament rahasia juga harus dibuat sendiri oleh orang yang akan meninggalkan warisan, tetapi tidak diharuskan untuk menulis dengan tangannya sendiri. Suatu testament rahasia harus selalu tertutup atau disegel. Penyerahan pada notaris harus dihadiri oleh empat orang saksi, orang yang benjadi saksi haruslah orang yang dewasa, penduduk indonesia, mengerti bahasa yang digunakan dalam testament atau akta penyerahan itu.

Untuk dapat membuat suatu testament,seorang harus sudah mencapai umur 18 tahun atau sudah dewasa, atau sudah kawin meskipun belum berumur 18 tahun. Selanjutnya, orang yang akan membuat testament haruslah sungguh-sungguh mempunyai pemikiran yang sehat. Suatu testament dapat ditarik kembali, kecuali pada pemberian warisan yang telah diletakkan dalam suatu perjanjian perkawinan. Penarikan kembali testament dapat dilakukan secara tegas dan secara diam-diam. Secara tegas dengan artian diterangkan dengan tegas bahwa telah dibuat testament baru dan testament dahulu ditarik kembali. Secara diam-diam dengan artian testament baru telah dibuat dengan memuat pesan yang bertentangan dengan testament yang lama.

  • Legitieme Portie

Para ahli waris dalam garis keturunan keatas maupun kebawah, berhak atas suatu legitieme portie. Legitieme portie yaitu suatu bagian tertentu dari harta peninggalan yang tidak dapat dihapuskan oleh orang yang meninggalkan warisan. Pengaturan mengenai legitieme portie ini oleh undang-undang dipandang sebagai suatu pembatasan kemerdekaan seseorang untuk membuat wasiat atau testament menurut kehendaknya sendiri

  •  Golongan 1, pasal 852 a: bagian seorang isteri (suami), kalau ada anak dari perkawinan dengan yang meninggal dunia adalah sama dengan bagian seorang anak. Seorang janda (duda) bagaimanapun juga tidak boleh lebih dari ½ dari harta warisan. Tentang berapa besarnya legietime portie bagi anak-anak yang sah ditetapkan oleh pasal 914 B.W. yaitu: 1). Jika hanya ada seorang anak yang sah, maka legitieme portie nya berjumlah separuh (1/2) dari bagian yang sebenarnya diperolehnya sebagai ahli waris menurut undang-undang. 2). Jika ada dua orang anak yang sah, maka jumlah legietieme portie untuk masing-masing 2/3 dari bagian yang sebenarnya diperolehnya sebagai ahli waris menurut undang-undang. 3). Jika ada tiga orang anak yang sah.atau lebih dari tiga orang, maka jumlah legietieme portie itu menjadi ¾ dari bagian yang sebenarnya diperolehnya sebagai ahli waris menurut undang-undang.
  •  Golongan 2, pasal 854: jika golongan 1 tidak ada, maka yang berhak mewaris ialah: bapak, ibu, dan saudara.

Ayah dan ibu dapat:

1/3 bagian kalau hanya ada 1 saudara

1/4 bagian kalau ada lebih dari 1 saudara

Bagian dari saudara adalah apa yang terdapat setelah dikurangi dengan bagian dari orang tua.

Pasal 855: jika yang masih hidup hanya seorang bapak atau seorang ibu, maka bagiannya ialah:

1/2 kalau ada 1 saudara

1/3 kalau ada 2 saudara

1/4 kalau ada lebih dari 2 orang saudara

Pasal 856: kalau bapak dan ibu telah tidak ada, maka seluruh warisan menjadi bagiannnya saudara-saudara.

Pasal 857: pembagian antara saudara-saudara adalah sama, kalau mereka itu mempunyai bapak dan ibu yang sama.

  •  Golongan 3, pasal 858 ayat 1: jika waris golongan 1 dan 2 tidak ada, maka warisan dibelah menjadi dua bagian yang sama. Yang satu bagian

Diperuntukan bagi keluarga sedarah dalam garis bapak lurus ke atas, yang lain bagian bagi keluarga sedarah dalam garis ibu lurus keatas. Bagi seorang ahli waris dalam garis keturunan keatas, misalnya orang tua atau nenek, menurut pasal 915 B.W. jumlah legietime portie selalu separuh (1/2) dari bagiannya sebagai ahli waris menurut undang-undang.

  •  Golongan 4, pasal 858 ayat 2: Kalau waris golongan 3 tidak ada maka warisan jatuh pada seorang waris yang terdekat pada tiap garis.

Pasal 873 kalau semua orang yang berhak mewaris tidak ada lagi maka seluruh warisan dapat dituntut oleh anak diluar kawin yang diakui. Legietime portie untuk seorang anak luar kawin yang telah diakui menurut pasal 916 B.W adalah separuh (1/2) dari bagian sebagai ahli waris menurut undang-undang.

  • Harta peninggalan yang tidak terurus

Dikatakan tidak terurus dengan artian bahwa jika ada suatu warisan terbuka dan tiada seorang pun yang tampil ke depan sebagai ahli waris atau orang-orang yang terkenal sebagai ahli waris semuanya menolak warisan itu. Dalam hal demikian, Balai harta peninggalan (weeskamer), dengan tidak menunggu perintah dari hakim, wajib mengurus warisan itu.

Jika setelah lewat 30 tahun termulai sejak terbukanya warisan belum juga ada seorang waris yang tampil ke muka atau melaporkan diri, maka weeskamer akan melakukan pertangungjawaban tentang pengurusan harta peninggalan itu kepada negara.